Full Day School sensasi baru
cerita tentang wacana baru gagasan Menteri Pendidikan yang baru Muhadjir Effendy setelah terjadinya reshufle
kabinet pemerintahan bapak Joko Widodo. Betapa
tidak, wacana ini menjadi buah bibir dan menjadi pemberitaan hangat di televisi
maupun media sosial. Berbagai polemik muncul pro dan kontra baik dari kalangan
rakyat bawahan sampai para pejabat tinggi. Lalu seperti apakah sebenarnya Full
Day School itu ? Berbagai pertanyaan bermunculan dari kalangan para guru dan
orang tua siswa. Seberapa besar efesiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran
jika dilaksanakan sekolah jika seharian penuh. Lalu bagaimanakah waktu anak
untuk bermain? Sedangkan mereka sangat membutuhkannya. Dan Bagaimanakah nasib
anak yang belajar al quran di madarasah atau LPTQ di sore hari?
Full day school dianngap
sebagai model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran islam yaitu dengan
memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan. Sekolah model ini
sangat diminati kalangan masyarakat modern yang notabene mempunyai kesibukan
yang sangat tinggi diluar rumah atau istilah lain bekerja, sehingga perhatian
terhadap anak sangat kurang. Maka sekolah model ini menjadi alternatif bagi
pembinaan keagamaan maupun lainnya bagi anak. Nampaknya pelaksanaan model ini
hanya diperuntukan untuk kalangan elit dan berduit yang ingin mempertahankan
eksestensinya sebagai kalangan atas.
Diberbagai mediasi
pemerintah memberikan alasan Full Day School untuk membatasi pergaulan anak secara bebas, agar a
anak tidak menjadi liar diluar sekolah karena mereka lepas dari pengawasan orang tua karena orang tua
mereka masih belumpulang dari kerja. Dan
juga mereka beralasan agar orang tua yang bekerja sebagai pejabat di kantoran
bisa pulang bersama-sama anaknya di sore hari. Dari alasan tersebut menimbulkan
pertanyaan, bagaimanakah dengan nasib anak para petani dan pengangguran? Apakah
bisa disamakan persepsi keadaan dikota
dengan keadaan di desa. Selain itu juga bagaimana nasib para guru yang juga
seharian penuh berada di sekolah? Apakah ada timbal balik untuk mereka ?
Dari Hal tersebut diatas
yang paling mendasar adalah Full Day
School diwacanakan untuk membatasi pergaulan secara bebas karena anak-anak
rentan mengkonsumsi obat-obatan, kenakalan remaja dan merokok. Permasalahan
kenakalan remaja, merokok dan obat-obatan
karenakan perbedaan pendidikan zaman sekarang dengan pendidikan pada zaman dahulu.
Mungkin wacana full day
school lebih mengisnpirasi anak selalu terjaga dan selalu dalam pengawasan guru
karena seharian berada di sekolah. Mungkin hal seperti itu memang benar dan sedikit
bisa dijadikan alasan untuk melaksanakan wacana full day school, tapi itu
hanyalah sampel di sebuah perkotaan besar. Dimana para orang tua mereka banyak
yang bekerja jadi pejabat atau kerja diluar rumah, sehingga mereka tidak bisa
mengawasi anak-anaknya, maka dengan sistem Full day menjadi alternatif. Tetapi
hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di pedesaan dan kalangan bawah,
dimana para orang tua ingin anaknya belajar alquran secara gratisan tanpa harus
membayar mahal untuk memberi subsidi silang dalam sistem full day school di
sekolah. Tetapi hal ini juga tidak menutup kemungkinan juga dilakukan di
perkotaan, dimana orang tua yang berkeinginan anak mereka belajar baca alquran
disebuah LPTQ.
Mendalami hal demikian,
sudah sepatutnyalah pemerintah untuk mengkaji ulang sebuah wacana yang menjadi
pro dan kontra di masyarakat. Sistem Full day haruslah benar-benar dikaji
secara mendalam, agar tidak terlihat dampak yang kurang baik dimata masyarakat
dan juga sistem full day bukan hanya semata untuk kepentingan kalangan atas. Full Day School akan sangat bertentangan bagi
para orang tua kalangan bawah yang ingin
anaknya belajar al quran di madrasah atau LPTQ. Penulis berasumsi, seharusnya pemerintah mencanangkan dan memberikan
fasilitas yang lebih lagi untuk membangun sarana dan prasarana, honor yang
tinggi para pengajar untuk pendidikan Al
Quran disetiap desa ataupun perkotaan. Bukankan pemerintah menginginkan
generasi anak indonesia mempunyai karakter budi pekerti baik dan berakhlak
mulia.
Bagi saya sendiri sebagai
seorang tenaga pendidik, Full Day School kemungkinan tidak akan berpengaruh
banyak bagi prestasi peserta didik dan juga tingkat kemauan belajar mereka akan
menurun karena seharian berada disekolah. Efesisensi dan efektivitas belajar
seorang peserta didik hanya berkisar 4 – 5 jam. Mereka butuh waktu untuk
istirahat. Lalu bagaimanakah jika Full
Day School diterapkan disemua sekolah di Indonesia.
Mari kita tunggu
kelanjutannya....








0 comments:
Post a Comment