Wednesday, 14 September 2016

Pendidikan Al Quran VS Full Day School



Full Day School sensasi baru cerita tentang wacana baru gagasan Menteri Pendidikan yang baru  Muhadjir Effendy setelah terjadinya reshufle kabinet pemerintahan  bapak Joko Widodo. Betapa tidak, wacana ini menjadi buah bibir dan menjadi pemberitaan hangat di televisi maupun media sosial. Berbagai polemik muncul pro dan kontra baik dari kalangan rakyat bawahan sampai para pejabat tinggi. Lalu seperti apakah sebenarnya Full Day School itu ? Berbagai pertanyaan bermunculan dari kalangan para guru dan orang tua siswa. Seberapa besar efesiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran jika dilaksanakan sekolah jika seharian penuh. Lalu bagaimanakah waktu anak untuk bermain? Sedangkan mereka sangat membutuhkannya. Dan Bagaimanakah nasib anak yang belajar al quran di madarasah atau LPTQ  di sore hari?

Full day school dianngap sebagai model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran islam yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan. Sekolah model ini sangat diminati kalangan masyarakat modern yang notabene mempunyai kesibukan yang sangat tinggi diluar rumah atau istilah lain bekerja, sehingga perhatian terhadap anak sangat kurang. Maka sekolah model ini menjadi alternatif bagi pembinaan keagamaan maupun lainnya bagi anak. Nampaknya pelaksanaan model ini hanya diperuntukan untuk kalangan elit dan berduit yang ingin mempertahankan eksestensinya sebagai kalangan atas.

Diberbagai mediasi pemerintah memberikan alasan Full Day School untuk  membatasi pergaulan anak secara bebas, agar a anak tidak menjadi liar diluar sekolah karena mereka lepas dari  pengawasan orang tua karena orang tua mereka  masih belumpulang dari kerja. Dan juga mereka beralasan agar orang tua yang bekerja sebagai pejabat di kantoran bisa pulang bersama-sama anaknya di sore hari. Dari alasan tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimanakah dengan nasib anak para petani dan pengangguran? Apakah bisa disamakan persepsi keadaan  dikota dengan keadaan di desa. Selain itu juga bagaimana nasib para guru yang juga seharian penuh berada di sekolah? Apakah ada timbal balik untuk mereka ?
Dari Hal tersebut diatas yang  paling mendasar adalah Full Day School diwacanakan untuk membatasi pergaulan secara bebas karena anak-anak rentan mengkonsumsi obat-obatan, kenakalan remaja dan merokok. Permasalahan kenakalan remaja, merokok dan obat-obatan  karenakan perbedaan pendidikan zaman sekarang dengan pendidikan  pada zaman dahulu.

Mungkin wacana full day school lebih mengisnpirasi anak selalu terjaga dan selalu dalam pengawasan guru karena seharian berada di sekolah. Mungkin hal seperti itu memang benar dan sedikit bisa dijadikan alasan untuk melaksanakan wacana full day school, tapi itu hanyalah sampel di sebuah perkotaan besar. Dimana para orang tua mereka banyak yang bekerja jadi pejabat atau kerja diluar rumah, sehingga mereka tidak bisa mengawasi anak-anaknya, maka dengan sistem Full day menjadi alternatif. Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di pedesaan dan kalangan bawah, dimana para orang tua ingin anaknya belajar alquran secara gratisan tanpa harus membayar mahal untuk memberi subsidi silang dalam sistem full day school di sekolah. Tetapi hal ini juga tidak menutup kemungkinan juga dilakukan di perkotaan, dimana orang tua yang berkeinginan anak mereka belajar baca alquran disebuah LPTQ.

Mendalami hal demikian, sudah sepatutnyalah pemerintah untuk mengkaji ulang sebuah wacana yang menjadi pro dan kontra di masyarakat. Sistem Full day haruslah benar-benar dikaji secara mendalam, agar tidak terlihat dampak yang kurang baik dimata masyarakat dan juga sistem full day bukan hanya semata untuk kepentingan kalangan atas.  Full Day School akan sangat bertentangan bagi para orang tua kalangan bawah yang ingin  anaknya belajar al quran di madrasah atau LPTQ.  Penulis berasumsi, seharusnya  pemerintah mencanangkan dan memberikan fasilitas yang lebih lagi untuk membangun sarana dan prasarana, honor yang tinggi para  pengajar untuk pendidikan Al Quran disetiap desa ataupun perkotaan. Bukankan pemerintah menginginkan generasi anak indonesia mempunyai karakter budi pekerti baik dan berakhlak mulia.

Bagi saya sendiri sebagai seorang tenaga pendidik, Full Day School kemungkinan tidak akan berpengaruh banyak bagi prestasi peserta didik dan juga tingkat kemauan belajar mereka akan menurun karena seharian berada disekolah. Efesisensi dan efektivitas belajar seorang peserta didik hanya berkisar 4 – 5 jam. Mereka butuh waktu untuk istirahat. Lalu bagaimanakah jika  Full Day School  diterapkan disemua sekolah di Indonesia. 
Mari kita tunggu kelanjutannya....

0 comments:

Post a Comment

Lomba Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI)Jenjang SD

  Ayoo... kawan-kawan Pendidik dan Tenaga Pendidik di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, Ayo Ikuti Lomba Multimedia Pembelajaran Interakti...